Search This Blog

Wednesday, April 27, 2011

Cobaan hidup sang kakak Part 1

Buat saudariku tercinta,

Kisah ini sebelumnya sudah mendapat persetujuan dari ybs,
Cobaan ini dimulai ketika kakakku mengandung anak yang ke3. Sebelumnya memang sudah dikaruniai 2 orang putra. Dirimu ingin sekali punya anak perempuan,ternyata harapanmu terkabul. Lahirlah anak perempuan seperti yang kau idamkan. Awalnya pertumbuhan sang anak biasa saja tapi setelah menginjak tahun kedua,keponakanku tiba-tiba saja sakit. Kakakku kaget setengah mati melihat anaknya yang tiba-tiba saja kejang dengan mata mendelik keatas. Padahal saat itu kakakku sedang menggendong anaknya dan bermain dirumah tetangga.
inilah awal musibah dari semua itu (penyakit panas di sertai kejang kejang)

Lalu kakakku membawanya ke RS terdekat di Bekasi. Sempat dirawat beberapa hari tapi kemudian pihak RS merasa tak sanggup dan harus di oper ke salah satu RS pemerintah di Jakarta. Disana dokter menyarankan harus dirawat di ruang ICU. Dan vonis dokter yang mengatakan bahwa keponakanku megalami penyempitan pembuluh darah di otak. Kakakku sempat shock apalagi saat itu kakakku masih menyusui, penderitaanya double. Karena harus menyapih, pikiran kalut dan kondisi tubuh yang tidak karuan, panas dingin badannya. Sempat miris aku melihatnya. Sang kakak yang sedang berjuang dengan kondisi tubuh yang hampir ambruk dan si anak yang sedang terbaring diruang ICU dengan alat dan kabel2 yang ada disekujur tubuhnya.

Diruang ICU selama seminggu tak jua membuahkan hasil akhirnya kakakku membawanya pulang dengan alasan keuangan yang terkuras habis tapi kesembuhan tak juga didapat. Sambil terus merawat anaknya dirumah, cara terapi pun di coba di lakukannya, mungkin karena kekecewaanya terhadap dokter dan RS. Sedikit demi sedikit kesembuhan mulai terlihat kami sekeluarga ikut senang,terapi yang dijalankannya membawa hasil.

Tapi ternyata Allah Swt berkehendak lain, hanya seminggu kegembiraan itu kami rasakan. Di pagi hari pukul 9 kakakku tiba-tiba teriak histeris, si buah hati di gendongannya,sedang meregang nyawa nafasnya putus-putus dan hanya dalam hitungan detik anaknya telah pergi menghadap Illahi, tangis kami pun pecah walau bagaimana pun sedihnya kakakku dan keluarga besar kami harus merelakan takdir yang sudah digariskan.

1 comment: